Iklan Sekilas :

Update Pembangunan Ruang Baru

Update Pembangunan Ruang Baru :

Alhamdulillah, sampai dengan tgl. 09 Oktober 2009, telah terkumpul dana sebesar

Rp. 9.220.000,- Jazakumullah khoiron katsiiron.

Siapa lagi yg mau menyusul ??

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2009

Bayi Bertuliskan Al Qur'an Didatangi Peziarah


VIVAnews - Ribuan orang dari kelompok peziarah mendatangi kediaman Ali Yakubov. Balita sembilan bulan yang memiliki tulisan Al Qur'an di permukaan kulitnya.

Seperti ditulis laman abcnews, Jumat, 23 Oktober 2009, ribuan peziarah itu ingin menyaksikan langsung 'mukjizat' yang berada di sebelah selatan Republik Dagestan, Rusia.

Keajaiban yang kontroversial itu mengundang perhatian warga. Bahkan, massa ingin melihat secara lansgung proses menghilang dan munculnya lagi tulisan Arab, di permukaan kulit anak dari Madina Yakubov itu.

Pemimpin agama di Dagestan mengatakan, tulisan Arab, "Segala Puji Bagi Allah" menghilang dari permukaan kulit pada kaki sebelah kanan Yakubov. Tulisan itu baru saja hilang minggu ini.

Ibu Yakubov mengaku tak kuasa ketika melihat putranya itu mengerang kesakitan. "Sangat mustahil mengatakan kepada dia apa yang sebenarnya terjadi. Ketika tulisan itu muncul, panas badannya bisa lebih dari 40 derajat (celcius)," ujar dia.

Seperti diketahui, Madina, mengaku tulisan itu berubah dan muncul setiap dua kali dalam satu minggu.

"Dalam suasana normal, tanda-tanda dan tulisan itu akan muncul dua kali seminggu. Biasanya pada Senin dan di malam hari antara Kamis dan Jumat," kata Madina.

Tulisan berbahasa Arab pada kulit Yakubov sendiri masih dinilai kontroversial. Diagnosa tim dokter terpecah. Ada yang tidak itu sebagai keajaiban relijius. Malah, sebagian dokter berkesimpulan tulisan itu dibuat dari campuran lada dan garam.

Salah satu yang meragukan fenomena itu adalah Ludmila Luss, seorang dokter lokal. Ia percaya tulisan Al Quran di kulit bayi itu dilakukan oleh kedua orang tua bayi tersebut.

"Kemungkinan orang tua bayi itu membuat iritasi kulit pada bayi itu dengan lada dan garam. Hal itu memicu pembengkakan kulit dan menimbulkan jejak merah berupa huruf Arab," ujar Ludmila seperti dikutip harian Pravda.

ismoko.widjaya@vivanews.com

• VIVAnews

Telur Bantu Perkembangan IQ Anak



YOGYAKARTA–Hasil penelitian Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengungkapkan bahwa telur dapat membantu perkembangan “intelligence quotient” (IQ/inteligensi) dan mengatasi kekurangan yodium pada anak.”Telur sangat penting untuk dikonsumsi oleh anak usia sekolah. Mengonsumsi dua telur setiap hari dapat membantu perkembangan IQ dan mengobati penyakit defisiensi yodium,” kata ahli gizi FK UGM Toto Sudargo SKM MKes di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, hasil penelitian yang dilakukan pada anak sekolah di kawasan pegunungan seperti Wonosobo dan Wonogiri, Jawa Tengah, menunjukkan dampak kekurangan yodium dapat menurunkan IQ anak sekitar 10-15 persen.”Namun ketika diobati dengan telur bisa menambah IQ sekitar 20 persen. Untuk itu, sebagai langkah antisipatif, anak usia dini disarankan untuk mengonsumsi dua telur setiap hari untuk membantu perkembangan IQ,” katanya.

Ia mengatakan, rata-rata anak sekolah di seluruh Indonesia sekitar 35-65 persen masih kekurangan gizi, terutama defisiensi yodium, bahkan di daerah Wonosobo dan Wonogiri diketahui sekitar 19-33 persen siswa sekolah kekurangan yodium.

Menurut dia, anak perlu mengonsumsi telur, karena daya serap satu telur yang beratnya 60 gram mengandung 7-8 gram protein, sedangkan untuk kebutuhan anak sekolah adalah sebesar 45 gram protein.”Jadi, anak sekolah perlu mengonsumsi telur. Apalagi jika digoreng, karena ada tambahan 10 gram protein, yang akan menambah 110 kilogram kalori,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Martalena Purba MCN PhD mengatakan, masalah gizi kurang menyebabkan kualitas penduduk Indonesia rendah terutama pada anak balita, ibu hamil, orang lanjut usia, dan siswa.

Menurut dia, berdasarkan penelitian, gizi kurang sering terjadi pada masa-masa tertentu seperti dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan perubahan iklim global yang menyebabkan perubahan siklus panen. “Selain itu, juga sering muncul ketika terjadi bencana, yang menyebabkan semakin bertambahnya jumlah penderita gizi kurang pada kelompok yang rentan,” katanya. ant/kpo

disunting dari Republika.co.id

Ustadz Kita

Liputan6 Headline News

Followers

Daftar Pengunjung :